Hey Hellooo...
Seneng nya bisa balik nulis lagi di blog ini 😍😍
Kali ini, author pengen nulisin sebuah cerita yang agak-agak mistis lagi nih, semoga tulisan ini bisa menghibur dan menemani malam-malam sepi kalian sampai ke dalam mimpi 😂😂😂😂
Ok kita mulai ya...
Sebelumnya, kalian tahu kan bangunan rumah tua model jaman penjajahan dulu?
Ilustrasi by Meta AI
Ok kurang lebih nya seperti ilustrasi di atas ya...
Nah bayangkan bangunan itu berada di atas sebuah lahan dengan luasan kurang lebih 300 meter persegi, bangunan yang hanya seluas kurang lebih 120 meter persegi itu di kelilingi oleh semak-semak dan pohon-pohon buah yang rindang, sementara pekarangan itu dibatasi oleh pagar jadul yang juga sebagian sudah rubuh. Pohon buah-buahan yang tumbuh di pekarangan itu antara lain mangga, rambutan, dondong serta sawo. Udah kayak wisata kebun buah sih, tapi sayangnya nggak ada yang berani wisata ke tempat itu. Pekarangan rumah itu penuh dengan buah-buahan yang dibiarkan jatuh dan membusuk, bukan karena pagar tinggi dan tertutup atau takut melanggar hukum karena mengambil buah yang bukan miliknya, namun....
"Uti, rumah yang di ujung jalan itu, yang letaknya tusuk sate pertigaan kampung itu, emang sekarang ada yang nempatin ya?" Tanya seorang gadis belia kepada neneknya.
"Rumah belanda itu? Siapa juga yang berani nempatin to Nduk? kenapa memangnya?" Jawab Nenek Mutia, nenek dari gadis belia bernama Helga.
Helga cucu pertama Mutia, tinggal bersama orang tuanya di kota besar, saat itu, mengisi waktu libur sekolah Helga yang masih berstatus sebagai pelajar SMA itu pun memutuskan untuk mengunjungi rumah Nenek atau Uti nya yang ada di kampung.
"Ah, enggak Uti, tadi Helga lihat ada bapak-bapak lagi duduk di dalem rumah, keliatan dari jendela yang kebuka. Jadi Helga kira rumah itu sudah terjual dan dihuni orang," Jawab Helga sambil meletakkan belanjaan sayur di meja dapur.
"Isshh, kayak kamu lagi pertama kali ke sini aja to Nduk, Nduk, kekekekekek," kata Mutia sambil terkekeh.
Ya, Helga memang sudah sering mengunjungi rumah Utinya, dan satu hal yang digemarinya saat berkunjung adalah duduk di bawah pohon sawo yang ada di dalam pekarangan rumah itu, sambil memakan beberapa biji sawo matang. Kok bisa? kalau aman, kenapa pada ngebiarin buah-buahan itu berjatuhan dan membusuk?
17 tahun yang lalu...
Seorang anak gadis berjalan riang di jalan perkampungan dengan masih menggunakan seragam sekolah SMA nya. Ketika berjarak kurang lebih 5 meter dari rumah belanda yang kusam dan menyeramkan karena telah dibiarkan tak terawat berpuluh-puluh tahun, tenggorokannya terasa kering. Rasa haus demikian menyiksa gadis itu. Saat melewati rumah belanda, entah mengapa kepalanya ingin sekali menengok ke arah rumah tua itu. Saat melihat ke arah rumah tersebut, dilihatnya seorang pria tampan dengan kaos putih tengah berdiri menatap ke arah gadis itu, tiba-tiba saja tangan pemuda itu terulur ke depan dengan posisi telentang. Entah mengapa, gadis itu merasa terpanggil, lalu berjalan begitu saja ke arah pemuda tersbut, melupakan segala cerita seram mengenai rumah tersebut yang membuatnya selalu berlari ketika melewati bangunan itu.
Putri, nama gadis itu, seakan terhipnotis dengan pesona sang pemuda tampan namun pucat yang tengah memenuhi halusinasinya. Tangan Putri bergerak terulur, menyambut uluran tangan pemuda itu, dan seketika suasana yang tadinya suram berubah menjadi cerah, bersih dan benar-benar asri. Rumah tua itu tak lagi terlihat seram dan kotor, benar-benar terawat, kebun yang indah dan yang mengejutkan adalah buah-buahan yang sudah tertata rapi di atas meja taman di bawah pohon sawo. Tangan Putri ditarik diajak untuk duduk di meja taman tersebut, kemudian pemuda itu mengupas mangga dan menyuapkan Mangga tersebut ke mulut Putri, tanpa berfikir, Putri menerima suapan itu dan terkejut dengan rasa mangga yang begitu luar biasa enak. Tanpa mengeluarkan kata-kata, pemuda pucat itu kemudian memindahkan Putri untuk duduk di atas pangkuannya, sambil tangan pria itu tetap menyuapkan mangga ke mulutnya, hingga di suapan yang terakhir, tangan pria itu merengkuh tengkuk Putri, membuatnya menunduk kemudian tiba-tiba, bib*r pemuda itu melum*t lembut bibir Putri. Gadis itu terhenyak, namun kemudian kembali terhanyut dengan sentuhan-sentuhan lembut si pemuda pucat itu. Di dimensi lain, di alam yang bukan tempatnya, untuk pertama kali nya gadis itu merasakan sesuatu yang sangat luar biasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, sens*si yang memabukkan. Bukan hanya sekali dua kali, namun kedua insan beda alam itu melakukan kegiatan saling memu*skan satu sama lain berkali-kali.
Sementara itu di sisi dunia dimana manusia masih harus berjuang untuk makan, seorang ibu menangis tersedu di dalam rumahnya, ditemani beberapa tetangga yang merasa simpati atas apa yang terjadi dengan si Ibu itu, rasa putus asa dan kesedihan yang luar biasa besar dialami olehnya lantaran kehilangan anak gadis semata wayangnya. Mutia, dibantu warga telah selama 2 hari ini berkeliling mencari keberadaan Putri, anak gadisnya, yang tak juga kembali ke rumah sepulang sekolah. Beliau awalnya mencoba mendatangi sekolahan Putri, namun penjaga sekolah mengatakan bahwa para murid di pulangkan lebih awal karena ada pertemuan guru, kemudian belum berputus asa, Mutia mencari Putri ke rumah teman-teman anaknya, namun tak juga membuahkan hasil. Saat sore hari, Mutia mendatangi rumah kepada dukuh dan meminta pertolongan untuk mencari Putri, anak gadisnya. Hari ini hari ke dua, dan masih belum ada petunjuk terkait keberadaan Putri. Hingga seorang anak laki-laki yang mengidap cacat mental, berjalan santai lalu berkata bahwa dirinya melihat kuntilanak di pohon sawo yang tumbuh dipekarangan rumah belanda. Orang-orang tua yang mendengar itu kemudian bersama berjalan menuju rumah tersebut, dan benar saja, seorang wanita terlihat duduk tersampir di salah satu cabang pohon. Warga geger dan memanggil salah seorang tetua yang mengetahui tentang hal-hal mistis, seorang ahli metafisika yang sering dimintai pertolongan oleh mereka yang terganggu oleh hal-hal tak logis itu.
Mbah Ngadi, sang ahli metafisika terlihat tengah bergumam sendiri di batas pagar rumah belanda itu, kemudian meminta salah seorang warga untuk memanggil Mutia supaya datang ke tempat itu. Mutiapun datang tergopoh dan langsung melihat ke arah wanita yang terduduk di cabang pohon sawo keitka sampai di lokasi.
"Nduk, Tia," ujar Mbah Ngadi memanggil Mutia. "Benar itu anakmu, Nduk," lirih Mbah Ngadi memberitahu Mutia, bahwa wanita yang terduduk di cabang pohon itu adalah Putri, anak gadis Mutia.
Suara tangis Mutia pun pecah, meronta-ronta saat ditenangkan memaksa supaya anak gadisnya segera diturunkan. Namun usapan tangan Mbah Ngadi di wajah ibu itu membuatnya tenang seketika.
"Dengarkan saya, Mutia," pinta Mbah Ngadi lirih. "Mari, ikut saya," pintanya lagi.
Mutia mengikuti Mbah Ngadi berjalan mendekat ke batas pagar.
"Ini, adalah ibu dari gadis yang sudah kamu curi kesuciannya. Kamu melanggar batas adat duniawi. Kamu harus bertanggung jawab terhadap Putri," kata Mbah Ngadi tegas, kepada entah apa yang diajaknya berbicara itu, karena tak ada satupun yang melihat kecuali Mbah Ngadi sendiri dan tak ada satupun yang memahami maksud beliau. Setelah itu, Mbah Ngadi terlihat mengangguk-angguk lalu meminta beberapa warga untuk menurunkan Putri dari pohon. Setelah diturunkan, Putri segera dibawa pulang ke rumahnya diikuti oleh Mutia yang sudah mulai menangis lagi. Sesampainya di rumah, Putri dibaringkan di kamar, oleh Mutia dan beberapa ibu-ibu, tubuh Putri dibersihkan, namun betapa terkejutnya mereka melihat bekas-bekas cubitan yang mulai membiru di tubuh gadis itu. Selain itu ada juga bekas luka berbentuk lubang berjumlah 4 yang berdekatan dan membentuk lengkungan. (Yahhh coba bayangkan saja bekas gigitan vampir yang pernah kalian liat di salah satu film Vampir terkenal di tahun 2016 an)
Selesai membersihkan tubuh Putri, Mutia dipanggil untuk ke ruang tamu, di sana sudah ada Mbah Ngadi dan beberapa pengurus dukuh.
"Duduk dulu, Nduk," pinta Mbah Ngadi. "Disini, saya, mau menyampaikan sesuatu kepada kamu Mutia, dan kepada pengurus dukuh. Tetapi saya minta kalian bijak-bijak dalam menerima kabar ini. Semua ini adalah musibah, dan murni karena kesalahan para demit kurang ajar itu, jadi kita tetap harus mendukung Putri secara mental, sebab ini akan sangat berat untuknya," ujar Mbah Ngadi.
"Mbaah, ada apa sebenarnya ini? anak saya kenapa Mbah?" Desak Mutia ingin segera mendengar apa yang tengah terjadi pada anak semata wayangnya.
"Jadi... Putri telah....."
Bersambung....
