Hello hai... author lupa kalau punya blog ini, hahahaha....
Yah setelah 6 tahun pengen bikin blog lagi dan ternyata sudah ada dan masih aktif, so lanjutin aja di sini deh dari pada bikin baru.
Kali ini author pengen berbagi cerita horor, sebuah pengalaman mistis yang kalau dipikir pake nalar 7 hari 7 malem nggak bakalan ketemu logikanya kayak apa 😂😂
Jadi gini ceritanya...
Atmo, seorang pria muda yang tinggal di sebuah kota kecil bernama K, pawakannya tinggi, kurus, berambut gondrong. Entahlah, tapi menurut sahibul hikayat, si Atmo ini punya indra ke enam yang bisa melihat apa yang tidak bisa kita lihat.
Suatu ketika, Atmo yang suka sekali minum minuman keras semacam batu, kayu dan sebagainya (hahahaha kidding guys, you know what i mean lah) sedang menikmati minuman kesukaannya itu bersama dengan temannya. Atmo dan Karto duduk di pinggiran sebuah sungai besar di bawah jembatan jalan raya. Sungai itu terkenal angker, tapi banyak ikannya, maka tak heran jika siang hari pasti ada banyak orang yang duduk di pinggir-pinggir sungai itu dengan membawa alat pancing mereka, syaratnya mereka tidak boleh masuk ke bagian sungai yang berbentuk seperti sumur, (apa ya? mungkin seperti ceruk yang terlihat lebih dalam dari bagian sungai yang lain kali ya?) jika ingin semuanya aman saja, tapi kalau malam, hmmmm lewat aja mrinding guys wakakakaka, tapi entah kenapa si Atmo ini suka banget nongkrong di sana malam-malam, apalagi di bawah pohon kweni.
Minuman di botol air mineral ukuran 1.5 liter itu tinggal tersisa setengah botol, Atmo dan Karto masih saja duduk bersender pohon sambil mengobrol kemana-mana. Tiba-tiba, byuuuurrr, terdengar suara air terciprat seperti saat ada seseorang melempar bongkahan batu besar dari atas jembatan.
"Dancik, opo kae mau Mo? Dancik, apa itu tadi Mo?" tanya Karto yang terkejut bahkan sampai terlonjak karena suara tiba-tiba itu.
"Opo sih? Nggak ono opo-opo, paling wong mbalangno watu teko ndhuwur. Apa sih? Nggak ada apa-apa, paling orang ngelempar batu dari atas." jawab Atmo cuek, namun matanya melirik tepat di bagian sungai yang berada tepat di bawah jembatan, dimana di area itu terdapat sumur yang dimaksud di atas.
"Hadeh... ngopo malah metu saiki? njelehi! Hadeh kenapa mesti keluar sekarang? menyebalkan!" Gerutu Atmo dalam hatinya, lantaran kesal dengan kehadiran sosok wanita berambut panjang tanpa busana yang tiba-tiba memamerkan gaya berenangnya di bawah jembatan itu. Biasanya jika sosok perempuan itu muncul, besoknya pasti ada kejadian yang menggemparkan terjadi di area sungai itu.
Tiba-tiba, sosok wanita itu berhenti berenang, membalikkan tubuhnya hingga wajahnya dan seluruh tubuh telanjangnya itu terlihat oleh mata Atmo yang membuat pria muda itu memalingkan wajahnya dan menutup matanya. Bukaaannn!!!! bukan karena nggak mau nerima keindahan pemandangan di depannya, si Atmo mah nggak sesuci itu 😆😆😆, tapi karena dia tau bahwa sosok wanita itu akan menyampaikan sesuatu yang hanya akan terdengar melalui kemampuan batinnya.
"Sesuk, telung dino, ojo dolan rene, kanjeng ratu arep duwe gawe. Besok, tiga hari, jangan main ke sini, kanjeng ratu mau punya kerja." begitu suara lembut nan menggoda itu berkata, kemudian hilang begitu saja, berganti dengan suara panik dan goncangan tangan Karto di tubuh Atmo.
"Dus, ulo dusss!! ulloo gedhe!!! ayo mlayu, selak dipangan ulo Dusss!!! Dus (Wedhus / kambing), ular Dus!!! Ular besar!!! ayo lari, keburu dimakan ular Duss!!!" begitu oceh Karto panik.
"Crewet!! Menengo!!!! Kui lho wes disawang jejermu!! Cerewet!! Diamlah!!! Itu lho udah diliatin sama sebelahmu!!" Kata Atmo sambil melirik malas.
"Opo to Dus? Dhewe lho mung wong... lo.....ro..! Apa to Dus? kita lho cuma ber..du......a." kata Karto sambil menoleh ke samping dan tiba-tiba kalimat nya tersendat begitu melihat apa yang ada di sebelahnya. "Hehehe.... kok ono cagak gedhe to iki mau? hehehe kok ada tiang besar to ini tadi," ujar Karto yang terkejut, karena ada sesuatu menyerupai tiang penyangga rumah yang diameternya sekitar 20 cm an, tangannya meraba batang itu, lalu Karto terkikik sendiri, "hehehe... cagak e kok ono wulu ne ya ? kok koyo glugut ning kok ora nlusupi, hehehe kayu ne apik iki Dus, empuk sisan. Hehehe... tiangnya kok ada bulunya, kayak glugut (lapisan lembut pada bambu yang kadang bikin gatal dan suka menancap di kulit) tapi kok gak nancep-nancep, hehehe, kayu nya bagus ini Dus, mana empuk lagi," ujarnya sambil jarinya menekan-nekan ke batang tersebut. Kepala Karto bergerak ke atas, matanya menelusur batang tersebut, hingga dilihatnya 2 bulatan berwarna merah 1 meter di atas kepalanya. "Hehe... mbaaahh... ngapunten nggih mbah... hehehe. Mo, Atmo ayo mulih Mo, Mbah Kliwon melu njagong iki lho Mo, ayo mulih Mo. Hehe... mbah, maaf ya mbah, hehehe. Mo, ayo pulang Mo, Mbah Kliwon ikut nongkrong ini lho Mo, ayo pulang Mo." Ujar Karto ketakutan, tak mendapat respon dari Atmo, Karto pun langsung lari terbirit-birit. Atmo dan sosok tinggi besar di sampingnya itu tertawa.
Keesokan harinya, Atmo melihat beberapa anak berjalan membawa alat pancing di tangan mereka masing-masing.
"Arep mancing nangendi? Mau pada mancing dimana?" tanya Atmo.
"Kali sor Kweni Om. Sungai bawah Kweni, Om." jawab salah seorang anak.
"Ojo rono sik, sesuk bar patang dino wae. Jangan ke sana dulu, besok abis 4 hari aja." Cegah Atmo.
"Lha ngopo to Om? Lha kenapa sih Om?" tanya seorang anak yang lain.
"Yo nek pengen pangan ulo yo rono o. Ya kalau pengen dimakan ular ya ke sana aja." jawab Atmo ringan.
Anak-anak itu pun tak berkata apa-apa lagi, tetapi bahkan orang tua mereka pun sudah memberikan warning ke mereka untuk selalu berhati-hati dan memperhatikan semua larangan yang terkait dengan sungai itu, karena saking angker nya sungai tersebut.
"Sidane nang endi iki? Jadinya ke mana ini?" kata salah seorang anak yang membawa pancing itu.
"Kweni sik wae, nek sepi yo wes dhewe mancing nang Grenjeng wae. Kweni dulu aja, kalau sepi ya udah kita mancing di sungai Grenjeng aja." Jawab seorang anak yang lain.
"Aku wedi i tapi... tapi aku takut.." kata seorang anak lainnya.
"Yo wes bali wae kono nek wedi. Ya udah pulang aja sana kalau takut" kata yang lainnya. Namun anak yang takut itu tak jadi pulang, tetap memberanikan diri untuk ikut bersama teman-temannya.
Sampai di sungai Kweni, ke enam anak itu melihat kebawah, namun tak ada seorang pun di sana, suasananya begitu sepi, hingga mereka memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Namun saat hendak berjalan, datang lah seorang pria berumur sekitar 30 tahunan yang juga melihat ke arah sungai. Pria itu membawa motor dan mengenakan helm serta jaket, sepertinya bukan warga lokal.
"Lho lho... lha dho arep nangendi malahan? kae lho iwake uakeh poll. Lha malah pada mau kemana? Itu lho ikan nya banyak banget," Kata pria itu yang melihat rombongan anak-anak justru balik kanan bukan malah turun ke sungai.
Ke enam anak itu bingung, pasalnya tak satupun dari mereka yang melihat ada tanda-tanda ikan di dalam air sungai itu, tapi kok si pria tadi bilang ikannya banyak. Mereka saling tatap satu sama lain.
"Sanes iwak niku Pak, kondur mawon Pak, sepi niki, daripada mengke enten nopo-nopo. Bukan ikan itu Pak, pulang aja Pak, sepi ini, daripada nanti ada apa-apa." kata salah seorang anak.
"Halah, cah cilik ruh opo? wes kono dho lungo, tak pek e dhewe iwake. Halah anak kecil tau apa? udah sana pada pergi, biar buatku sendiri aja ikan-ikannya." Kata pria itu, sambil melenggang menepikan sepeda motornya, melepas helm lalu berjalan ke arah tangga menuju sungai dengan tas peralatan pancing di lengannya.
"Dhuh piye iki cah? Duh, gimana ini guys?" Keluh seorang anak.
"Piye apane? Wes ben wae, dhewe lapor Pak RT wae, ben diurusi sing tuwo-tuwo. Gimana apanya? Dah biarin aja, kita lapor pak RT aja, biar diurusi orang tua-tua." tegas anak yang lain.
Akhir nya ke 6 anak itu berpencar, 4 orang langsung menuju ke sungai Grenjeng, sementara 2 lainnya yang membawa sepeda menuju rumah Pak RT untuk memberitahu Pak RT soal pria asing yang nekad turun ke sungai tadi.
Selang 1 jam semenjak pemberitahuan anak-anak itu kepada Pak RT, sungai Kweni sudah penuh dengan orang, pasalnya, ketika Pak RT dan 2 orang warga mendatangi sungai, ternyata pria yang dimaksud anak-anak itu sudah ditemukan mengapung. Padahal waktunya tak berselang lama, paling sekitar 15 menitan dari pemberitahuan itu. Pak RT yang melihat itu meminta salah seorang warga yang ikut bersamanya untuk memberitahu warga lain. Sampai akhirnya kerumunan menjadi semakin banyak setelah tim sar dan ambulance serta pihak kepolisian datang ke lokasi tersebut.
Karena tidak ada yang mengetahui kejadian yang sebenarnya, selain pertemuan pria malang itu dengan para anak itu, maka kematian pria tersebut dianggap karena kecelakaan, terpeleset dan tidak bisa berenang. Agak nggak masuk akal sih, karena bagian sungai di dekat pria itu meletakan barang-barangnya adalah area dangkal, tapi ya entah ya kalau orang phobia air, ya pasti akan tetap panik sih mau sedangkal apapun air nya.
So, kalau menurut kalian gimana guys? Apakah kalian setuju dengan penyebab kematian itu adalah karena kecelakaan atau karena factor X yang kaitannya dengan warning dari perempuan tanpa busana yang berenang malam itu?
See you on my next article ya... Terima kasih sudah mengunjungi blog ini... 😇😻😻
