Saturday, December 6, 2025

Cerita Horor Mistis >> Rumah Belanda di Tengah Kampung (Part 1)

Hey Hellooo...

Seneng nya bisa balik nulis lagi di blog ini 😍😍

Kali ini, author pengen nulisin sebuah cerita yang agak-agak mistis lagi nih, semoga tulisan ini bisa menghibur dan menemani malam-malam sepi kalian sampai ke dalam mimpi 😂😂😂😂

Ok kita mulai ya... 

Sebelumnya, kalian tahu kan bangunan rumah tua model jaman penjajahan dulu? 

Ilustrasi by Meta AI

Ok kurang lebih nya seperti ilustrasi di atas ya... 
Nah bayangkan bangunan itu berada di atas sebuah lahan dengan luasan kurang lebih 300 meter persegi, bangunan yang hanya seluas kurang lebih 120 meter persegi itu di kelilingi oleh semak-semak dan pohon-pohon buah yang rindang, sementara pekarangan itu dibatasi oleh pagar jadul yang juga sebagian sudah rubuh. Pohon buah-buahan yang tumbuh di pekarangan itu antara lain mangga, rambutan, dondong serta sawo. Udah kayak wisata kebun buah sih, tapi sayangnya nggak ada yang berani wisata ke tempat itu. Pekarangan rumah itu penuh dengan buah-buahan yang dibiarkan jatuh dan membusuk, bukan karena pagar tinggi dan tertutup atau takut melanggar hukum karena mengambil buah yang bukan miliknya, namun.... 

"Uti, rumah yang di ujung jalan itu, yang letaknya tusuk sate pertigaan kampung itu, emang sekarang ada yang nempatin ya?" Tanya seorang gadis belia kepada neneknya. 

"Rumah belanda itu? Siapa juga yang berani nempatin to Nduk? kenapa memangnya?" Jawab Nenek Mutia, nenek dari gadis belia bernama Helga.

Helga cucu pertama Mutia, tinggal bersama orang tuanya di kota besar, saat itu, mengisi waktu libur sekolah Helga yang masih berstatus sebagai pelajar SMA itu pun memutuskan untuk mengunjungi rumah Nenek atau Uti nya yang ada di kampung. 

"Ah, enggak Uti, tadi Helga lihat ada bapak-bapak lagi duduk di dalem rumah, keliatan dari jendela yang kebuka. Jadi Helga kira rumah itu sudah terjual dan dihuni orang," Jawab Helga sambil meletakkan belanjaan sayur di meja dapur. 

"Isshh, kayak kamu lagi pertama kali ke sini aja to Nduk, Nduk, kekekekekek," kata Mutia sambil terkekeh. 

Ya, Helga memang sudah sering mengunjungi rumah Utinya, dan satu hal yang digemarinya saat berkunjung adalah duduk di bawah pohon sawo yang ada di dalam pekarangan rumah itu, sambil memakan beberapa biji sawo matang. Kok bisa? kalau aman, kenapa pada ngebiarin buah-buahan itu berjatuhan dan membusuk?

17 tahun yang lalu...

Seorang anak gadis berjalan riang di jalan perkampungan dengan masih menggunakan seragam sekolah SMA nya. Ketika berjarak kurang lebih 5 meter dari rumah belanda yang kusam dan menyeramkan karena telah dibiarkan tak terawat berpuluh-puluh tahun, tenggorokannya terasa kering. Rasa haus demikian menyiksa gadis itu. Saat melewati rumah belanda, entah mengapa kepalanya ingin sekali menengok ke arah rumah tua itu. Saat melihat ke arah rumah tersebut, dilihatnya seorang pria tampan dengan kaos putih tengah berdiri menatap ke arah gadis itu, tiba-tiba saja tangan pemuda itu terulur ke depan dengan posisi telentang. Entah mengapa, gadis itu merasa terpanggil, lalu berjalan begitu saja ke arah pemuda tersbut, melupakan segala cerita seram mengenai rumah tersebut yang membuatnya selalu berlari ketika melewati bangunan itu.

Putri, nama gadis itu, seakan terhipnotis dengan pesona sang pemuda tampan namun pucat yang tengah memenuhi halusinasinya. Tangan Putri bergerak terulur, menyambut uluran tangan pemuda itu, dan seketika suasana yang tadinya suram berubah menjadi cerah, bersih dan benar-benar asri. Rumah tua itu tak lagi terlihat seram dan kotor, benar-benar terawat, kebun yang indah dan yang mengejutkan adalah buah-buahan yang sudah tertata rapi di atas meja taman di bawah pohon sawo. Tangan Putri ditarik diajak untuk duduk di meja taman tersebut, kemudian pemuda itu mengupas mangga dan menyuapkan Mangga tersebut ke mulut Putri, tanpa berfikir, Putri menerima suapan itu dan terkejut dengan rasa mangga yang begitu luar biasa enak. Tanpa mengeluarkan kata-kata, pemuda pucat itu kemudian memindahkan Putri untuk duduk di atas pangkuannya, sambil tangan pria itu tetap menyuapkan mangga ke mulutnya, hingga di suapan yang terakhir, tangan pria itu merengkuh tengkuk Putri, membuatnya menunduk kemudian tiba-tiba, bib*r pemuda itu melum*t lembut bibir Putri. Gadis itu terhenyak, namun kemudian kembali terhanyut dengan sentuhan-sentuhan lembut si pemuda pucat itu. Di dimensi lain, di alam yang bukan tempatnya, untuk pertama kali nya gadis itu merasakan sesuatu yang sangat luar biasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, sens*si yang memabukkan. Bukan hanya sekali dua kali, namun kedua insan beda alam itu melakukan kegiatan saling memu*skan satu sama lain berkali-kali.

Sementara itu di sisi dunia dimana manusia masih harus berjuang untuk makan, seorang ibu menangis tersedu di dalam rumahnya, ditemani beberapa tetangga yang merasa simpati atas apa yang terjadi dengan si Ibu itu, rasa putus asa dan kesedihan yang luar biasa besar dialami olehnya lantaran kehilangan anak gadis semata wayangnya. Mutia, dibantu warga telah selama 2 hari ini berkeliling mencari keberadaan Putri, anak gadisnya, yang tak juga kembali ke rumah sepulang sekolah. Beliau awalnya mencoba mendatangi sekolahan Putri, namun penjaga sekolah mengatakan bahwa para murid di pulangkan lebih awal karena ada pertemuan guru, kemudian belum berputus asa, Mutia mencari Putri ke rumah teman-teman anaknya, namun tak juga membuahkan hasil. Saat sore hari, Mutia mendatangi rumah kepada dukuh dan meminta pertolongan untuk mencari Putri, anak gadisnya. Hari ini hari ke dua, dan masih belum ada petunjuk terkait keberadaan Putri. Hingga seorang anak laki-laki yang mengidap cacat mental, berjalan santai lalu berkata bahwa dirinya melihat kuntilanak di pohon sawo yang tumbuh dipekarangan rumah belanda. Orang-orang tua yang mendengar itu kemudian bersama berjalan menuju rumah tersebut, dan benar saja, seorang wanita terlihat duduk tersampir di salah satu cabang pohon. Warga geger dan memanggil salah seorang tetua yang mengetahui tentang hal-hal mistis, seorang ahli metafisika yang sering dimintai pertolongan oleh mereka yang terganggu oleh hal-hal tak logis itu.

Mbah Ngadi, sang ahli metafisika terlihat tengah bergumam sendiri di batas pagar rumah belanda itu, kemudian meminta salah seorang warga untuk memanggil Mutia supaya datang ke tempat itu. Mutiapun datang tergopoh dan langsung melihat ke arah wanita yang terduduk di cabang pohon sawo keitka sampai di lokasi. 

 "Nduk, Tia," ujar Mbah Ngadi memanggil Mutia. "Benar itu anakmu, Nduk," lirih Mbah Ngadi memberitahu Mutia, bahwa wanita yang terduduk di cabang pohon itu adalah Putri, anak gadis Mutia. 

Suara tangis Mutia pun pecah, meronta-ronta saat ditenangkan memaksa supaya anak gadisnya segera diturunkan. Namun usapan tangan Mbah Ngadi di wajah ibu itu membuatnya tenang seketika. 

"Dengarkan saya, Mutia," pinta Mbah Ngadi lirih. "Mari, ikut saya," pintanya lagi. 

Mutia mengikuti Mbah Ngadi berjalan mendekat ke batas pagar. 

"Ini, adalah ibu dari gadis yang sudah kamu curi kesuciannya. Kamu melanggar batas adat duniawi. Kamu harus bertanggung jawab terhadap Putri," kata Mbah Ngadi tegas, kepada entah apa yang diajaknya berbicara itu, karena tak ada satupun yang melihat kecuali Mbah Ngadi sendiri dan tak ada satupun yang memahami maksud beliau. Setelah itu, Mbah Ngadi terlihat mengangguk-angguk lalu meminta beberapa warga untuk menurunkan Putri dari pohon. Setelah diturunkan, Putri segera dibawa pulang ke rumahnya diikuti oleh Mutia yang sudah mulai menangis lagi. Sesampainya di rumah, Putri dibaringkan di kamar, oleh Mutia dan beberapa ibu-ibu, tubuh Putri dibersihkan, namun betapa terkejutnya mereka melihat bekas-bekas cubitan yang mulai membiru di tubuh gadis itu. Selain itu ada juga bekas luka berbentuk lubang berjumlah 4 yang berdekatan dan membentuk lengkungan. (Yahhh coba bayangkan saja bekas gigitan vampir yang pernah kalian liat di salah satu film Vampir terkenal di tahun 2016 an) 

Selesai membersihkan tubuh Putri, Mutia dipanggil untuk ke ruang tamu, di sana sudah ada Mbah Ngadi dan beberapa pengurus dukuh. 

"Duduk dulu, Nduk," pinta Mbah Ngadi. "Disini, saya, mau menyampaikan sesuatu kepada kamu Mutia, dan kepada pengurus dukuh. Tetapi saya minta kalian bijak-bijak dalam menerima kabar ini. Semua ini adalah musibah, dan murni karena kesalahan para demit kurang ajar itu, jadi kita tetap harus mendukung Putri secara mental, sebab ini akan sangat berat untuknya," ujar Mbah Ngadi. 

"Mbaah, ada apa sebenarnya ini? anak saya kenapa Mbah?" Desak Mutia ingin segera mendengar apa yang tengah terjadi pada anak semata wayangnya.

"Jadi... Putri telah....."


Bersambung.... 



















Monday, December 1, 2025

Prose >> About The Dog Love



The Furry Love
- We don't Deserve -

Hi... Hello my favorite human...
How was your day?
Do you miss me ?
I have already miss you by the way
Look! Look! Look!
My tail is wagging happy to see you.

Oh... seems like you're tired now
Seems like you don't want me to bother you...
Ah, okay, okay, I will just lay down here,
take your time human, take a deep breathe.
I am here if you need me...
It's okay, I will be staying here if you already need me.




Sunday, November 30, 2025

Cerita Horor Mistis >> Penunggu Sungai Kweni

 Hello hai... author lupa kalau punya blog ini, hahahaha....

Yah setelah 6 tahun pengen bikin blog lagi dan ternyata sudah ada dan masih aktif, so lanjutin aja di sini deh dari pada bikin baru. 

Kali ini author pengen berbagi cerita horor, sebuah pengalaman mistis yang kalau dipikir pake nalar 7 hari 7 malem nggak bakalan ketemu logikanya kayak apa 😂😂

Jadi gini ceritanya...

Atmo, seorang pria muda yang tinggal di sebuah kota kecil bernama K, pawakannya tinggi, kurus, berambut gondrong. Entahlah, tapi menurut sahibul hikayat, si Atmo ini punya indra ke enam yang bisa melihat apa yang tidak bisa kita lihat. 

Suatu ketika, Atmo yang suka sekali minum minuman keras semacam batu, kayu dan sebagainya (hahahaha kidding guys, you know what i mean lah) sedang menikmati minuman kesukaannya itu bersama dengan temannya. Atmo dan Karto duduk di pinggiran sebuah sungai besar di bawah jembatan jalan raya. Sungai itu terkenal angker, tapi banyak ikannya, maka tak heran jika siang hari pasti ada banyak orang yang duduk di pinggir-pinggir sungai itu dengan membawa alat pancing mereka, syaratnya mereka tidak boleh masuk ke bagian sungai yang berbentuk seperti sumur, (apa ya? mungkin seperti ceruk yang terlihat lebih dalam dari bagian sungai yang lain kali ya?) jika ingin semuanya aman saja, tapi kalau malam, hmmmm lewat aja mrinding guys wakakakaka, tapi entah kenapa si Atmo ini suka banget nongkrong di sana malam-malam, apalagi di bawah pohon kweni. 

Minuman di botol air mineral ukuran 1.5 liter itu tinggal tersisa setengah botol, Atmo dan Karto masih saja duduk bersender pohon sambil mengobrol kemana-mana. Tiba-tiba, byuuuurrr, terdengar suara air terciprat seperti saat ada seseorang melempar bongkahan batu besar dari atas jembatan. 

"Dancik, opo kae mau Mo? Dancik, apa itu tadi Mo?" tanya Karto yang terkejut bahkan sampai terlonjak karena suara tiba-tiba itu. 

"Opo sih? Nggak ono opo-opo, paling wong mbalangno watu teko ndhuwur. Apa sih? Nggak ada apa-apa, paling orang ngelempar batu dari atas." jawab Atmo cuek, namun matanya melirik tepat di bagian sungai yang berada tepat di bawah jembatan, dimana di area itu terdapat sumur yang dimaksud di atas.

"Hadeh... ngopo malah metu saiki? njelehi! Hadeh kenapa mesti keluar sekarang? menyebalkan!" Gerutu Atmo dalam hatinya, lantaran kesal dengan kehadiran sosok wanita berambut panjang tanpa busana yang tiba-tiba memamerkan gaya berenangnya di bawah jembatan itu. Biasanya jika sosok perempuan itu muncul, besoknya pasti ada kejadian yang menggemparkan terjadi di area sungai itu. 

Tiba-tiba, sosok wanita itu berhenti berenang, membalikkan tubuhnya hingga wajahnya dan seluruh tubuh telanjangnya itu terlihat oleh mata Atmo yang membuat pria muda itu memalingkan wajahnya dan menutup matanya. Bukaaannn!!!! bukan karena nggak mau nerima keindahan pemandangan di depannya, si Atmo mah nggak sesuci itu 😆😆😆, tapi karena dia tau bahwa sosok wanita itu akan menyampaikan sesuatu yang hanya akan terdengar melalui kemampuan batinnya. 

"Sesuk, telung dino, ojo dolan rene, kanjeng ratu arep duwe gawe. Besok, tiga hari, jangan main ke sini, kanjeng ratu mau punya kerja." begitu suara lembut nan menggoda itu berkata, kemudian hilang begitu saja, berganti dengan suara panik dan goncangan tangan Karto di tubuh Atmo.

"Dus, ulo dusss!! ulloo gedhe!!! ayo mlayu, selak dipangan ulo Dusss!!! Dus (Wedhus / kambing), ular Dus!!! Ular besar!!! ayo lari, keburu dimakan ular Duss!!!" begitu oceh Karto panik. 

"Crewet!! Menengo!!!! Kui lho wes disawang jejermu!! Cerewet!! Diamlah!!! Itu lho udah diliatin sama sebelahmu!!" Kata Atmo sambil melirik malas. 

"Opo to Dus? Dhewe lho mung wong... lo.....ro..! Apa to Dus? kita lho cuma ber..du......a." kata Karto sambil menoleh ke samping dan tiba-tiba kalimat nya tersendat begitu melihat apa yang ada di sebelahnya. "Hehehe.... kok ono cagak gedhe to iki mau? hehehe kok ada tiang besar to ini tadi," ujar Karto yang terkejut, karena ada sesuatu menyerupai tiang penyangga rumah yang diameternya sekitar 20 cm an, tangannya meraba batang itu, lalu Karto terkikik sendiri, "hehehe... cagak e kok ono wulu ne ya ? kok koyo glugut ning kok ora nlusupi, hehehe kayu ne apik iki Dus, empuk sisan. Hehehe... tiangnya kok ada bulunya, kayak glugut (lapisan lembut pada bambu yang kadang bikin gatal dan suka menancap di kulit) tapi kok gak nancep-nancep, hehehe, kayu nya bagus ini Dus, mana empuk lagi," ujarnya sambil jarinya menekan-nekan ke batang tersebut. Kepala Karto bergerak ke atas, matanya menelusur batang tersebut, hingga dilihatnya 2 bulatan berwarna merah 1 meter di atas kepalanya. "Hehe... mbaaahh... ngapunten nggih mbah... hehehe. Mo, Atmo ayo mulih Mo, Mbah Kliwon melu njagong iki lho Mo, ayo mulih Mo. Hehe... mbah, maaf ya mbah, hehehe. Mo, ayo pulang Mo, Mbah Kliwon ikut nongkrong ini lho Mo, ayo pulang Mo." Ujar Karto ketakutan, tak mendapat respon dari Atmo, Karto pun langsung lari terbirit-birit. Atmo dan sosok tinggi besar di sampingnya itu tertawa. 

Keesokan harinya, Atmo melihat beberapa anak berjalan membawa alat pancing di tangan mereka masing-masing. 

"Arep mancing nangendi? Mau pada mancing dimana?" tanya Atmo.

"Kali sor Kweni Om. Sungai bawah Kweni, Om." jawab salah seorang anak. 

"Ojo rono sik, sesuk bar patang dino wae. Jangan ke sana dulu, besok abis 4 hari aja." Cegah Atmo. 

"Lha ngopo to Om? Lha kenapa sih Om?" tanya seorang anak yang lain. 

"Yo nek pengen pangan ulo yo rono o. Ya kalau pengen dimakan ular ya ke sana aja." jawab Atmo ringan. 

Anak-anak itu pun tak berkata apa-apa lagi, tetapi bahkan orang tua mereka pun sudah memberikan warning ke mereka untuk selalu berhati-hati dan memperhatikan semua larangan yang terkait dengan sungai itu, karena saking angker nya sungai tersebut.

"Sidane nang endi iki? Jadinya ke mana ini?" kata salah seorang anak yang membawa pancing itu.

"Kweni sik wae, nek sepi yo wes dhewe mancing nang Grenjeng wae. Kweni dulu aja, kalau sepi ya udah kita mancing di sungai Grenjeng aja." Jawab seorang anak yang lain. 

"Aku wedi i tapi... tapi aku takut.." kata seorang anak lainnya. 

"Yo wes bali wae kono nek wedi. Ya udah pulang aja sana kalau takut" kata yang lainnya. Namun anak yang takut itu tak jadi pulang, tetap memberanikan diri untuk ikut bersama teman-temannya. 

Sampai di sungai Kweni, ke enam anak itu melihat kebawah, namun tak ada seorang pun di sana, suasananya begitu sepi, hingga mereka memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Namun saat hendak berjalan, datang lah seorang pria berumur sekitar 30 tahunan yang juga melihat ke arah sungai. Pria itu membawa motor dan mengenakan helm serta jaket, sepertinya bukan warga lokal.

"Lho lho... lha dho arep nangendi malahan? kae lho iwake uakeh poll. Lha malah pada mau kemana? Itu lho ikan nya banyak banget," Kata pria itu yang melihat rombongan anak-anak justru balik kanan bukan malah turun ke sungai. 

Ke enam anak itu bingung, pasalnya tak satupun dari mereka yang melihat ada tanda-tanda ikan di dalam air sungai itu, tapi kok si pria tadi bilang ikannya banyak. Mereka saling tatap satu sama lain. 

"Sanes iwak niku Pak, kondur mawon Pak, sepi niki, daripada mengke enten nopo-nopo. Bukan ikan itu Pak, pulang aja Pak, sepi ini, daripada nanti ada apa-apa." kata salah seorang anak. 

"Halah, cah cilik ruh opo? wes kono dho lungo, tak pek e dhewe iwake. Halah anak kecil tau apa? udah sana pada pergi, biar buatku sendiri aja ikan-ikannya." Kata pria itu, sambil melenggang menepikan sepeda motornya, melepas helm lalu berjalan ke arah tangga menuju sungai dengan tas peralatan pancing di lengannya. 

"Dhuh piye iki cah? Duh, gimana ini guys?" Keluh seorang anak. 

"Piye apane? Wes ben wae, dhewe lapor Pak RT wae, ben diurusi sing tuwo-tuwo. Gimana apanya? Dah biarin aja, kita lapor pak RT aja, biar diurusi orang tua-tua." tegas anak yang lain. 

Akhir nya ke 6 anak itu berpencar, 4 orang langsung menuju ke sungai Grenjeng, sementara 2 lainnya yang membawa sepeda menuju rumah Pak RT untuk memberitahu Pak RT soal pria asing yang nekad turun ke sungai tadi. 

Selang 1 jam semenjak pemberitahuan anak-anak itu kepada Pak RT, sungai Kweni sudah penuh dengan orang, pasalnya, ketika Pak RT dan 2 orang warga mendatangi sungai, ternyata pria yang dimaksud anak-anak itu sudah ditemukan mengapung. Padahal waktunya tak berselang lama, paling sekitar 15 menitan dari pemberitahuan itu. Pak RT yang melihat itu meminta salah seorang warga yang ikut bersamanya untuk memberitahu warga lain. Sampai akhirnya kerumunan menjadi semakin banyak setelah tim sar dan ambulance serta pihak kepolisian datang ke lokasi tersebut. 

Karena tidak ada yang mengetahui kejadian yang sebenarnya, selain pertemuan pria malang itu dengan para anak itu, maka kematian pria tersebut dianggap karena kecelakaan, terpeleset dan tidak bisa berenang. Agak nggak masuk akal sih, karena bagian sungai di dekat pria itu meletakan barang-barangnya adalah area dangkal, tapi ya entah ya kalau orang phobia air, ya pasti akan tetap panik sih mau sedangkal apapun air nya. 


So, kalau menurut kalian gimana guys? Apakah kalian setuju dengan penyebab kematian itu adalah karena kecelakaan atau karena factor X yang kaitannya dengan warning dari perempuan tanpa busana yang berenang malam itu? 


See you on my next article ya... Terima kasih sudah mengunjungi blog ini... 😇😻😻