Friday, January 9, 2026

Cerita Horor Mistis >> Rumah Belanda di Tengah Kampung (Part 2)

 

"Jadi.... Putri telah...," Mbah Ngadi berhenti, menatap bergantian pada orang-orang yang berkumpul di ruangan itu. 

"Putri kenapa Mbah? Anak saya kenapa?" Tanya Mutia tak sabaran.

"Ada beberapa orang yang ditakdirkan memiliki aura yang menarik untuk para makhluk yang tinggal di dunia lain. Sering kali aura mereka baru mulai terbuka ketika sudah menginjak usia diatas 15 tahun. Ketika masih bayi, aura ini nampak oleh mereka yang menekuni ilmu-ilmu kejawen, maka biasanya anak ini akan disiapkan bagaimana menghadapi hal-hal seperti ini. Namun, dalam kasus Putri, tidak ada yang mengarahkannya, dan aura itu terbuka tanpa sepengetahuan kita," Jelas Mbah Ngadi. 

"Ma...maksudnya Mbah?" tanya Mutia.

"Putri punya aura yang disukai oleh mereka yang tinggal di dimensi sebelah, yang mana aura itu baru saja terbuka. Apakah Putri pernah sakit panas selama beberapa hari, hanya pada saat malam?" Tanya Mbah Ngadi. 

"I...Iya mbah, sebulan yang lalu, Putri sakit panas selama 5 hari, hasil cek darahnya tidak ada masalah, dokter pun bingung soal sakitnya Putri. Itu apa artinya Mbah?" papar Mutia. 

"Itu adalah tanda awal terbukanya aura Putri, Bu. Karena tidak ada yang mempersiapkan nya dari awal, maka hal-hal seperti ini terpaksa terjadi dan mau tidak mau kita harus menerimanya karena ini bukan salah Putri," Papar Mbah Ngadi lagi. 

"Maksud Mbah ngomong kayak gitu apa sih, Mbah? sebenernya Putri kenapa?" cecar Mutia. 

"Anak gadis ibu, sudah dipinang oleh makhluk yang tinggal di rumah belanda itu bu, ehm.. dan maaf, Putri sudah tidak lagi gadis," 

Semua orang di ruangan itu terkesiap, terlebih Mutia. 

"Kita tetap harus menjaga Putri, dan menerima kondisi Putri bagaimanapun nanti keadaannya. Kita tidak mengetahui bagaimana kedepannya nanti, jika memang benih yang ditanam makhluk itu di dalam tubuh Putri tumbuh, maka untuk sementara Putri aman, tidak akan ada makhluk lain yang mengganggu. Tetapi jika tidak, maka kita harus mengadakan ruwatan untuk membersihkan aura Putri, supaya hal seperti ini tidak terjadi lagi," jelas Mbah Ngadi. 

"Apa tidak bisa digugurkan saja jika memang janin itu tumbuh Mbah?" Kata salah seorang pria.

Mutia yang ada di dalam dekapan salah satu wanita yang ikut dalam perbincangan itu hanya bisa mengangguk tak bersuara, menyetujui ide untuk menggugurkan janin makhluk tak jelas itu. 

"Tidak bisa, karena jika kita menggugurkan janin itu, maka Putri yang akan mati," tegas Mbah Ngadi. 

"Tapi Mbah, bagaimana jika anak itu nanti membawa sial di kampung ini?" Tanya Pak RT, yang setelah menyadari pertanyaannya beliau kemudian melihat tak enak hati pada bu Mutia.

Mbah Ngadi menghela nafas berat, beliau sendiri sebenarnya juga belum bisa melihat apakah jika anak ini dipertahankan akan membawa kebaikan atau justru petaka. 

"Kita tunggu dulu, sampai bisa dipastikan apakah Putri mengandung atau tidak. Sisanya kita pikirkan nanti," kata mbah Ngadi kemudian.

Beberapa waktu berlalu setelah kejadian yang menimpa Putri, selama waktu itu, Putri tidak diijinkan keluar dari rumah atau bertemu orang lain selain keluarganya dan mbah Ngadi yang melakukan ritual untuk menjaganya. Hingga akhirnya hari yang dinantikan datang juga, hari dimana seharusnya Putri mengalami haid setiap bulannya. Sayangnya, di tanggal tersebut, hal yang mereka nanti tak juga muncul bahkan setelah menunggu seminggu lamanya.

"Mbah, kita bawa ke puskesmas saja nggih? biar segera jelas," pinta Mutia, karena putri tak juga menunjukkan tanda-tanda baik itu kehamilan maupun tidak. 

"Iya bu, saya setuju. Saya akan ikut mengawal putri, sekedar untuk jaga-jaga," jawab mbah Ngadi. 

Mutia mempersiapkan dirinya dan juga Putri yang masih terbaring lemah di tempat tidur dengan wajah pucatnya itu untuk bergegas berangkat ke puskemas, ditemani mbah Ngadi dan diantar oleh tetangganya.

Sesampainya di puskemas, mereka diarahkan ke bagian ibu dan anak.

"Bapak, Ibu, adek Putri ini betul kondisi nya hamil. Hasil test kehamilan menunjukan 2 garis Pak, Bu," ujar seorang petugas yang sepertinya adalah seorang bidan.

Tanpa menjawab, Mbah Ngadi hanya menghela nafas berat, sedangkan Mutia sudah mulai menangis.

"Tolong diterima saja kondisinya ya Pak, Bu. Janin yang saat ini dikandung oleh Putri tidak tahu apa-apa, jadi tolong diterima dan dirawat. Adek Putri pun juga sebaiknya dirawat dan di dukung psikologisnya," kata bidan itu lembut.

"Terima kasih bu bidan. Ayo kita pulang Bu," ucap Mbah Ngadi, berterima kasih kepada sang bidan lalu mengajak Mutia untuk membawa Putri pulang. Mau membantah atau menjelaskan kepada bu Bidan pun terasa tak ada artinya. 

"Pripun iki Mbah?" tanya Mutia sambil masih tersedu sesampainya di rumah. 

"Wes-wes, nek Bu Mutia mengijinkan, Putri akan saya bawa ke Ibu kota, saya ada saudara di sana yang bisa menjaga putri dan memastikan kondisi nya ke depan akan baik-baik saja, sampai nanti anak ini lahir. Gimana bu?" ujar Mbah Ngadi.

"Ta...tapi Mbah, Putri belum pernah pergi jauh dari rumah, saya khawatir...."

"Wes to yu, ini cuma sementara dan untuk kebaikan Putri juga, kalau tetap disini kita nggak tahu apa yang akan terjadi ke depannya," bujuk seorang wanita yang merupakan salah satu tetangga Mutia. 

"Betul bu, setidaknya sampai anak ini lahir, kalau dia lahir, kita akan bisa melihat imbas apa yang dibawa olehnya bagi kita," kata mbah Ngadi. 

"Tapi Putri akan baik-baik saja kan Mbah?" tanya Mutia ragu-ragu.

"Hmm... karena sudah dipastikan Putri mengandung benih makhluk itu, maka selama janin itu ada di dalam perutnya, Putri akan selalu aman," jawab mbah Ngadi. 

"Ba...baik Mbah, lakukan saja yang terbaik buat Putri, Mbah," pasrah Mutia. 






Saturday, December 6, 2025

Cerita Horor Mistis >> Rumah Belanda di Tengah Kampung (Part 1)

Hey Hellooo...

Seneng nya bisa balik nulis lagi di blog ini 😍😍

Kali ini, author pengen nulisin sebuah cerita yang agak-agak mistis lagi nih, semoga tulisan ini bisa menghibur dan menemani malam-malam sepi kalian sampai ke dalam mimpi 😂😂😂😂

Ok kita mulai ya... 

Sebelumnya, kalian tahu kan bangunan rumah tua model jaman penjajahan dulu? 

Ilustrasi by Meta AI

Ok kurang lebih nya seperti ilustrasi di atas ya... 
Nah bayangkan bangunan itu berada di atas sebuah lahan dengan luasan kurang lebih 300 meter persegi, bangunan yang hanya seluas kurang lebih 120 meter persegi itu di kelilingi oleh semak-semak dan pohon-pohon buah yang rindang, sementara pekarangan itu dibatasi oleh pagar jadul yang juga sebagian sudah rubuh. Pohon buah-buahan yang tumbuh di pekarangan itu antara lain mangga, rambutan, dondong serta sawo. Udah kayak wisata kebun buah sih, tapi sayangnya nggak ada yang berani wisata ke tempat itu. Pekarangan rumah itu penuh dengan buah-buahan yang dibiarkan jatuh dan membusuk, bukan karena pagar tinggi dan tertutup atau takut melanggar hukum karena mengambil buah yang bukan miliknya, namun.... 

"Uti, rumah yang di ujung jalan itu, yang letaknya tusuk sate pertigaan kampung itu, emang sekarang ada yang nempatin ya?" Tanya seorang gadis belia kepada neneknya. 

"Rumah belanda itu? Siapa juga yang berani nempatin to Nduk? kenapa memangnya?" Jawab Nenek Mutia, nenek dari gadis belia bernama Helga.

Helga cucu pertama Mutia, tinggal bersama orang tuanya di kota besar, saat itu, mengisi waktu libur sekolah Helga yang masih berstatus sebagai pelajar SMA itu pun memutuskan untuk mengunjungi rumah Nenek atau Uti nya yang ada di kampung. 

"Ah, enggak Uti, tadi Helga lihat ada bapak-bapak lagi duduk di dalem rumah, keliatan dari jendela yang kebuka. Jadi Helga kira rumah itu sudah terjual dan dihuni orang," Jawab Helga sambil meletakkan belanjaan sayur di meja dapur. 

"Isshh, kayak kamu lagi pertama kali ke sini aja to Nduk, Nduk, kekekekekek," kata Mutia sambil terkekeh. 

Ya, Helga memang sudah sering mengunjungi rumah Utinya, dan satu hal yang digemarinya saat berkunjung adalah duduk di bawah pohon sawo yang ada di dalam pekarangan rumah itu, sambil memakan beberapa biji sawo matang. Kok bisa? kalau aman, kenapa pada ngebiarin buah-buahan itu berjatuhan dan membusuk?

17 tahun yang lalu...

Seorang anak gadis berjalan riang di jalan perkampungan dengan masih menggunakan seragam sekolah SMA nya. Ketika berjarak kurang lebih 5 meter dari rumah belanda yang kusam dan menyeramkan karena telah dibiarkan tak terawat berpuluh-puluh tahun, tenggorokannya terasa kering. Rasa haus demikian menyiksa gadis itu. Saat melewati rumah belanda, entah mengapa kepalanya ingin sekali menengok ke arah rumah tua itu. Saat melihat ke arah rumah tersebut, dilihatnya seorang pria tampan dengan kaos putih tengah berdiri menatap ke arah gadis itu, tiba-tiba saja tangan pemuda itu terulur ke depan dengan posisi telentang. Entah mengapa, gadis itu merasa terpanggil, lalu berjalan begitu saja ke arah pemuda tersbut, melupakan segala cerita seram mengenai rumah tersebut yang membuatnya selalu berlari ketika melewati bangunan itu.

Putri, nama gadis itu, seakan terhipnotis dengan pesona sang pemuda tampan namun pucat yang tengah memenuhi halusinasinya. Tangan Putri bergerak terulur, menyambut uluran tangan pemuda itu, dan seketika suasana yang tadinya suram berubah menjadi cerah, bersih dan benar-benar asri. Rumah tua itu tak lagi terlihat seram dan kotor, benar-benar terawat, kebun yang indah dan yang mengejutkan adalah buah-buahan yang sudah tertata rapi di atas meja taman di bawah pohon sawo. Tangan Putri ditarik diajak untuk duduk di meja taman tersebut, kemudian pemuda itu mengupas mangga dan menyuapkan Mangga tersebut ke mulut Putri, tanpa berfikir, Putri menerima suapan itu dan terkejut dengan rasa mangga yang begitu luar biasa enak. Tanpa mengeluarkan kata-kata, pemuda pucat itu kemudian memindahkan Putri untuk duduk di atas pangkuannya, sambil tangan pria itu tetap menyuapkan mangga ke mulutnya, hingga di suapan yang terakhir, tangan pria itu merengkuh tengkuk Putri, membuatnya menunduk kemudian tiba-tiba, bib*r pemuda itu melum*t lembut bibir Putri. Gadis itu terhenyak, namun kemudian kembali terhanyut dengan sentuhan-sentuhan lembut si pemuda pucat itu. Di dimensi lain, di alam yang bukan tempatnya, untuk pertama kali nya gadis itu merasakan sesuatu yang sangat luar biasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, sens*si yang memabukkan. Bukan hanya sekali dua kali, namun kedua insan beda alam itu melakukan kegiatan saling memu*skan satu sama lain berkali-kali.

Sementara itu di sisi dunia dimana manusia masih harus berjuang untuk makan, seorang ibu menangis tersedu di dalam rumahnya, ditemani beberapa tetangga yang merasa simpati atas apa yang terjadi dengan si Ibu itu, rasa putus asa dan kesedihan yang luar biasa besar dialami olehnya lantaran kehilangan anak gadis semata wayangnya. Mutia, dibantu warga telah selama 2 hari ini berkeliling mencari keberadaan Putri, anak gadisnya, yang tak juga kembali ke rumah sepulang sekolah. Beliau awalnya mencoba mendatangi sekolahan Putri, namun penjaga sekolah mengatakan bahwa para murid di pulangkan lebih awal karena ada pertemuan guru, kemudian belum berputus asa, Mutia mencari Putri ke rumah teman-teman anaknya, namun tak juga membuahkan hasil. Saat sore hari, Mutia mendatangi rumah kepada dukuh dan meminta pertolongan untuk mencari Putri, anak gadisnya. Hari ini hari ke dua, dan masih belum ada petunjuk terkait keberadaan Putri. Hingga seorang anak laki-laki yang mengidap cacat mental, berjalan santai lalu berkata bahwa dirinya melihat kuntilanak di pohon sawo yang tumbuh dipekarangan rumah belanda. Orang-orang tua yang mendengar itu kemudian bersama berjalan menuju rumah tersebut, dan benar saja, seorang wanita terlihat duduk tersampir di salah satu cabang pohon. Warga geger dan memanggil salah seorang tetua yang mengetahui tentang hal-hal mistis, seorang ahli metafisika yang sering dimintai pertolongan oleh mereka yang terganggu oleh hal-hal tak logis itu.

Mbah Ngadi, sang ahli metafisika terlihat tengah bergumam sendiri di batas pagar rumah belanda itu, kemudian meminta salah seorang warga untuk memanggil Mutia supaya datang ke tempat itu. Mutiapun datang tergopoh dan langsung melihat ke arah wanita yang terduduk di cabang pohon sawo keitka sampai di lokasi. 

 "Nduk, Tia," ujar Mbah Ngadi memanggil Mutia. "Benar itu anakmu, Nduk," lirih Mbah Ngadi memberitahu Mutia, bahwa wanita yang terduduk di cabang pohon itu adalah Putri, anak gadis Mutia. 

Suara tangis Mutia pun pecah, meronta-ronta saat ditenangkan memaksa supaya anak gadisnya segera diturunkan. Namun usapan tangan Mbah Ngadi di wajah ibu itu membuatnya tenang seketika. 

"Dengarkan saya, Mutia," pinta Mbah Ngadi lirih. "Mari, ikut saya," pintanya lagi. 

Mutia mengikuti Mbah Ngadi berjalan mendekat ke batas pagar. 

"Ini, adalah ibu dari gadis yang sudah kamu curi kesuciannya. Kamu melanggar batas adat duniawi. Kamu harus bertanggung jawab terhadap Putri," kata Mbah Ngadi tegas, kepada entah apa yang diajaknya berbicara itu, karena tak ada satupun yang melihat kecuali Mbah Ngadi sendiri dan tak ada satupun yang memahami maksud beliau. Setelah itu, Mbah Ngadi terlihat mengangguk-angguk lalu meminta beberapa warga untuk menurunkan Putri dari pohon. Setelah diturunkan, Putri segera dibawa pulang ke rumahnya diikuti oleh Mutia yang sudah mulai menangis lagi. Sesampainya di rumah, Putri dibaringkan di kamar, oleh Mutia dan beberapa ibu-ibu, tubuh Putri dibersihkan, namun betapa terkejutnya mereka melihat bekas-bekas cubitan yang mulai membiru di tubuh gadis itu. Selain itu ada juga bekas luka berbentuk lubang berjumlah 4 yang berdekatan dan membentuk lengkungan. (Yahhh coba bayangkan saja bekas gigitan vampir yang pernah kalian liat di salah satu film Vampir terkenal di tahun 2016 an) 

Selesai membersihkan tubuh Putri, Mutia dipanggil untuk ke ruang tamu, di sana sudah ada Mbah Ngadi dan beberapa pengurus dukuh. 

"Duduk dulu, Nduk," pinta Mbah Ngadi. "Disini, saya, mau menyampaikan sesuatu kepada kamu Mutia, dan kepada pengurus dukuh. Tetapi saya minta kalian bijak-bijak dalam menerima kabar ini. Semua ini adalah musibah, dan murni karena kesalahan para demit kurang ajar itu, jadi kita tetap harus mendukung Putri secara mental, sebab ini akan sangat berat untuknya," ujar Mbah Ngadi. 

"Mbaah, ada apa sebenarnya ini? anak saya kenapa Mbah?" Desak Mutia ingin segera mendengar apa yang tengah terjadi pada anak semata wayangnya.

"Jadi... Putri telah....."


Bersambung.... 



















Monday, December 1, 2025

Prose >> About The Dog Love



The Furry Love
- We don't Deserve -

Hi... Hello my favorite human...
How was your day?
Do you miss me ?
I have already miss you by the way
Look! Look! Look!
My tail is wagging happy to see you.

Oh... seems like you're tired now
Seems like you don't want me to bother you...
Ah, okay, okay, I will just lay down here,
take your time human, take a deep breathe.
I am here if you need me...
It's okay, I will be staying here if you already need me.




Sunday, November 30, 2025

Cerita Horor Mistis >> Penunggu Sungai Kweni

 Hello hai... author lupa kalau punya blog ini, hahahaha....

Yah setelah 6 tahun pengen bikin blog lagi dan ternyata sudah ada dan masih aktif, so lanjutin aja di sini deh dari pada bikin baru. 

Kali ini author pengen berbagi cerita horor, sebuah pengalaman mistis yang kalau dipikir pake nalar 7 hari 7 malem nggak bakalan ketemu logikanya kayak apa 😂😂

Jadi gini ceritanya...

Atmo, seorang pria muda yang tinggal di sebuah kota kecil bernama K, pawakannya tinggi, kurus, berambut gondrong. Entahlah, tapi menurut sahibul hikayat, si Atmo ini punya indra ke enam yang bisa melihat apa yang tidak bisa kita lihat. 

Suatu ketika, Atmo yang suka sekali minum minuman keras semacam batu, kayu dan sebagainya (hahahaha kidding guys, you know what i mean lah) sedang menikmati minuman kesukaannya itu bersama dengan temannya. Atmo dan Karto duduk di pinggiran sebuah sungai besar di bawah jembatan jalan raya. Sungai itu terkenal angker, tapi banyak ikannya, maka tak heran jika siang hari pasti ada banyak orang yang duduk di pinggir-pinggir sungai itu dengan membawa alat pancing mereka, syaratnya mereka tidak boleh masuk ke bagian sungai yang berbentuk seperti sumur, (apa ya? mungkin seperti ceruk yang terlihat lebih dalam dari bagian sungai yang lain kali ya?) jika ingin semuanya aman saja, tapi kalau malam, hmmmm lewat aja mrinding guys wakakakaka, tapi entah kenapa si Atmo ini suka banget nongkrong di sana malam-malam, apalagi di bawah pohon kweni. 

Minuman di botol air mineral ukuran 1.5 liter itu tinggal tersisa setengah botol, Atmo dan Karto masih saja duduk bersender pohon sambil mengobrol kemana-mana. Tiba-tiba, byuuuurrr, terdengar suara air terciprat seperti saat ada seseorang melempar bongkahan batu besar dari atas jembatan. 

"Dancik, opo kae mau Mo? Dancik, apa itu tadi Mo?" tanya Karto yang terkejut bahkan sampai terlonjak karena suara tiba-tiba itu. 

"Opo sih? Nggak ono opo-opo, paling wong mbalangno watu teko ndhuwur. Apa sih? Nggak ada apa-apa, paling orang ngelempar batu dari atas." jawab Atmo cuek, namun matanya melirik tepat di bagian sungai yang berada tepat di bawah jembatan, dimana di area itu terdapat sumur yang dimaksud di atas.

"Hadeh... ngopo malah metu saiki? njelehi! Hadeh kenapa mesti keluar sekarang? menyebalkan!" Gerutu Atmo dalam hatinya, lantaran kesal dengan kehadiran sosok wanita berambut panjang tanpa busana yang tiba-tiba memamerkan gaya berenangnya di bawah jembatan itu. Biasanya jika sosok perempuan itu muncul, besoknya pasti ada kejadian yang menggemparkan terjadi di area sungai itu. 

Tiba-tiba, sosok wanita itu berhenti berenang, membalikkan tubuhnya hingga wajahnya dan seluruh tubuh telanjangnya itu terlihat oleh mata Atmo yang membuat pria muda itu memalingkan wajahnya dan menutup matanya. Bukaaannn!!!! bukan karena nggak mau nerima keindahan pemandangan di depannya, si Atmo mah nggak sesuci itu 😆😆😆, tapi karena dia tau bahwa sosok wanita itu akan menyampaikan sesuatu yang hanya akan terdengar melalui kemampuan batinnya. 

"Sesuk, telung dino, ojo dolan rene, kanjeng ratu arep duwe gawe. Besok, tiga hari, jangan main ke sini, kanjeng ratu mau punya kerja." begitu suara lembut nan menggoda itu berkata, kemudian hilang begitu saja, berganti dengan suara panik dan goncangan tangan Karto di tubuh Atmo.

"Dus, ulo dusss!! ulloo gedhe!!! ayo mlayu, selak dipangan ulo Dusss!!! Dus (Wedhus / kambing), ular Dus!!! Ular besar!!! ayo lari, keburu dimakan ular Duss!!!" begitu oceh Karto panik. 

"Crewet!! Menengo!!!! Kui lho wes disawang jejermu!! Cerewet!! Diamlah!!! Itu lho udah diliatin sama sebelahmu!!" Kata Atmo sambil melirik malas. 

"Opo to Dus? Dhewe lho mung wong... lo.....ro..! Apa to Dus? kita lho cuma ber..du......a." kata Karto sambil menoleh ke samping dan tiba-tiba kalimat nya tersendat begitu melihat apa yang ada di sebelahnya. "Hehehe.... kok ono cagak gedhe to iki mau? hehehe kok ada tiang besar to ini tadi," ujar Karto yang terkejut, karena ada sesuatu menyerupai tiang penyangga rumah yang diameternya sekitar 20 cm an, tangannya meraba batang itu, lalu Karto terkikik sendiri, "hehehe... cagak e kok ono wulu ne ya ? kok koyo glugut ning kok ora nlusupi, hehehe kayu ne apik iki Dus, empuk sisan. Hehehe... tiangnya kok ada bulunya, kayak glugut (lapisan lembut pada bambu yang kadang bikin gatal dan suka menancap di kulit) tapi kok gak nancep-nancep, hehehe, kayu nya bagus ini Dus, mana empuk lagi," ujarnya sambil jarinya menekan-nekan ke batang tersebut. Kepala Karto bergerak ke atas, matanya menelusur batang tersebut, hingga dilihatnya 2 bulatan berwarna merah 1 meter di atas kepalanya. "Hehe... mbaaahh... ngapunten nggih mbah... hehehe. Mo, Atmo ayo mulih Mo, Mbah Kliwon melu njagong iki lho Mo, ayo mulih Mo. Hehe... mbah, maaf ya mbah, hehehe. Mo, ayo pulang Mo, Mbah Kliwon ikut nongkrong ini lho Mo, ayo pulang Mo." Ujar Karto ketakutan, tak mendapat respon dari Atmo, Karto pun langsung lari terbirit-birit. Atmo dan sosok tinggi besar di sampingnya itu tertawa. 

Keesokan harinya, Atmo melihat beberapa anak berjalan membawa alat pancing di tangan mereka masing-masing. 

"Arep mancing nangendi? Mau pada mancing dimana?" tanya Atmo.

"Kali sor Kweni Om. Sungai bawah Kweni, Om." jawab salah seorang anak. 

"Ojo rono sik, sesuk bar patang dino wae. Jangan ke sana dulu, besok abis 4 hari aja." Cegah Atmo. 

"Lha ngopo to Om? Lha kenapa sih Om?" tanya seorang anak yang lain. 

"Yo nek pengen pangan ulo yo rono o. Ya kalau pengen dimakan ular ya ke sana aja." jawab Atmo ringan. 

Anak-anak itu pun tak berkata apa-apa lagi, tetapi bahkan orang tua mereka pun sudah memberikan warning ke mereka untuk selalu berhati-hati dan memperhatikan semua larangan yang terkait dengan sungai itu, karena saking angker nya sungai tersebut.

"Sidane nang endi iki? Jadinya ke mana ini?" kata salah seorang anak yang membawa pancing itu.

"Kweni sik wae, nek sepi yo wes dhewe mancing nang Grenjeng wae. Kweni dulu aja, kalau sepi ya udah kita mancing di sungai Grenjeng aja." Jawab seorang anak yang lain. 

"Aku wedi i tapi... tapi aku takut.." kata seorang anak lainnya. 

"Yo wes bali wae kono nek wedi. Ya udah pulang aja sana kalau takut" kata yang lainnya. Namun anak yang takut itu tak jadi pulang, tetap memberanikan diri untuk ikut bersama teman-temannya. 

Sampai di sungai Kweni, ke enam anak itu melihat kebawah, namun tak ada seorang pun di sana, suasananya begitu sepi, hingga mereka memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Namun saat hendak berjalan, datang lah seorang pria berumur sekitar 30 tahunan yang juga melihat ke arah sungai. Pria itu membawa motor dan mengenakan helm serta jaket, sepertinya bukan warga lokal.

"Lho lho... lha dho arep nangendi malahan? kae lho iwake uakeh poll. Lha malah pada mau kemana? Itu lho ikan nya banyak banget," Kata pria itu yang melihat rombongan anak-anak justru balik kanan bukan malah turun ke sungai. 

Ke enam anak itu bingung, pasalnya tak satupun dari mereka yang melihat ada tanda-tanda ikan di dalam air sungai itu, tapi kok si pria tadi bilang ikannya banyak. Mereka saling tatap satu sama lain. 

"Sanes iwak niku Pak, kondur mawon Pak, sepi niki, daripada mengke enten nopo-nopo. Bukan ikan itu Pak, pulang aja Pak, sepi ini, daripada nanti ada apa-apa." kata salah seorang anak. 

"Halah, cah cilik ruh opo? wes kono dho lungo, tak pek e dhewe iwake. Halah anak kecil tau apa? udah sana pada pergi, biar buatku sendiri aja ikan-ikannya." Kata pria itu, sambil melenggang menepikan sepeda motornya, melepas helm lalu berjalan ke arah tangga menuju sungai dengan tas peralatan pancing di lengannya. 

"Dhuh piye iki cah? Duh, gimana ini guys?" Keluh seorang anak. 

"Piye apane? Wes ben wae, dhewe lapor Pak RT wae, ben diurusi sing tuwo-tuwo. Gimana apanya? Dah biarin aja, kita lapor pak RT aja, biar diurusi orang tua-tua." tegas anak yang lain. 

Akhir nya ke 6 anak itu berpencar, 4 orang langsung menuju ke sungai Grenjeng, sementara 2 lainnya yang membawa sepeda menuju rumah Pak RT untuk memberitahu Pak RT soal pria asing yang nekad turun ke sungai tadi. 

Selang 1 jam semenjak pemberitahuan anak-anak itu kepada Pak RT, sungai Kweni sudah penuh dengan orang, pasalnya, ketika Pak RT dan 2 orang warga mendatangi sungai, ternyata pria yang dimaksud anak-anak itu sudah ditemukan mengapung. Padahal waktunya tak berselang lama, paling sekitar 15 menitan dari pemberitahuan itu. Pak RT yang melihat itu meminta salah seorang warga yang ikut bersamanya untuk memberitahu warga lain. Sampai akhirnya kerumunan menjadi semakin banyak setelah tim sar dan ambulance serta pihak kepolisian datang ke lokasi tersebut. 

Karena tidak ada yang mengetahui kejadian yang sebenarnya, selain pertemuan pria malang itu dengan para anak itu, maka kematian pria tersebut dianggap karena kecelakaan, terpeleset dan tidak bisa berenang. Agak nggak masuk akal sih, karena bagian sungai di dekat pria itu meletakan barang-barangnya adalah area dangkal, tapi ya entah ya kalau orang phobia air, ya pasti akan tetap panik sih mau sedangkal apapun air nya. 


So, kalau menurut kalian gimana guys? Apakah kalian setuju dengan penyebab kematian itu adalah karena kecelakaan atau karena factor X yang kaitannya dengan warning dari perempuan tanpa busana yang berenang malam itu? 


See you on my next article ya... Terima kasih sudah mengunjungi blog ini... 😇😻😻

Friday, March 22, 2019

Sayang, Baik dan Jahat

Hello hi... 😀😀

First of all, seperti yang udah tertera di profil, blog ini adalah tempat curahan hati Puscha. Tapi disisi lain, Puscha akan seneng sekali kalau blog ini bisa jadi inspirasi buat readers. 😇😇

Di part ini, Puscha lagi pengen curhat tentang Sayang, Baik dan Jahat

Ketika kamu punya perasaan sayang sama seseorang, apa sih yang akan kamu lakukan ?
Tentunya kamu akan melakukan segala sesuatu yang baik untuknya bukan ?
Tetapi sayang sekali, kata "baik" ini sering kali salah praktek ya guys...

Contohnya begini :
Kamu punya seorang teman sebutlah dia Rafia 😜😜 Kamu sayang sama si Rafia ini dan kamu ingin melakukan hal-hal baik untuknya, benar begitu ? hehehe kurasa begitu.
Rafia adalah manusia yang juga butuh uang untuk hidup, dan kamu tahu persis bagaimana caranya mendapatkan uang selama ini, yang mana menurut aturan umum apa yang dilakukan Rafia itu bukanlah hal yang baik untuk dilakukan.
Kamu benar-benar sayang dia ? Ada beberapa pilihan hal yang mungkin akan kamu lakukan :

1. Kamu biarkan dia melakukan apa yang dia lakukan sekarang, asal Rafia bahagia ?
2. Kamu bantu dia dengan cara memberikan uang seperti yang dia butuhkan?
3. Kamu bantu dia mencari pinjaman dengan bunga yang lumayan mencekik, tak apa yang penting dia terbantu saat ini ?
4. Kamu biarkan saja dia ?
5. Kamu bantu dia dengan menawarkan pekerjaan agar Rafia bisa memperoleh uang dengan keringatnya sendiri ?

Dan mungkin masih banyak lagi pilihannya.
Nomor 1 - 4 bagi Rafia, kamu adalah sang dewa penolong, kamu akan dielu-elukan, Rafia akan mengatakan bahwa kamu memang benar-benar sayang pada Rafia.
Tetapi benarkah itu rasa sayang ?
Tidak. Orang yang menyayangi orang lain, tidak akan membuat orang yang disayanginya berkubang lumpur terus menerus. Kamu pasti ingin Rafia menjadi orang yang mandiri, melakukan hal baik dalam hidupnya, untuk dirinya sendiri. Benar begitu ?

Pilihan nomor 5 mungkin akan membuatmu dibenci oleh Rafia, kenapa ?
Kamu membantunya dengan cara mencarikan pekerjaan untuknya. Ada banyak pilihan pekerjaan sesuai dengan kompetensi dan pendidikan nya bukan ?
Jika Rafia adalah orang yang menyadari bahwa untuk mendapatkan uang, manusia harus berusaha keras, maka Rafia tidak akan melakukan hal-hal, yang menurut aturan umum, tidak baik dilakukan untuk mendapatkan uang. Kalau ada cara gampang untuk mendapatkan uang, kenapa harus bersusah-susah ?
Lalu kenapa mungkin kamu dibenci, karena kamu membantu nya dengan cara membuatnya mau bekerja keras. Buat orang yang punya pikiran, justru hal ini bagus, karena bisa belajar mandiri. Tetapi tidak bagi Rafia. Dia akan berfikir "Orang sayang kok malah mau bikin orang yang disayang itu susah" 😁😁😁

Memang apa sih yang tidak baik menurut aturan umum itu ? Hehehe, males sih bahas nya, tapi okelah Puscha kasih contoh.
           - Berbohong / menipu untuk mendapatkan uang --> Minta bantuan untuk bayar biaya rumah
             sakit Ibu, padahal biaya rumah sakit ibu nya ditanggung BPJS full.
           - Berhutang tanpa berfikir bagaimana mengembalikannya, pada saat ditagih dia lebih galak
             dari yang nagih, alhasil utang nggak kebayar, cuek aja malah tetep bisa bergaya ini itu
             sana sini.
           - Memanfaatkan orang lain, tebar pesona sana sini biar ada yang mau kasih uang saku
             atau minimal nraktir makan di cafe. Tempel sana tempel sini biar bisa beli make up bagus.
           - Mempertahankan hubungan dengan lawan jenis yang potensial ( gampang keluar duit, mau
             bayarin atau beliin ini itu ) sementara lawan jenis nya itu sudah punya pasangan sah, alias
             jadi pelakor atau pebinor. Xixixixi
           - Pake tuyul, pake jampi jampi, pake setan ini itu wakakakakakaka masih banyaklah
             caranya capek kalau ditulis semua. hehehe

Ya terserah kalian sih mau bantu orang yang kalian sayang itu seperti apa.
Kalau Puscha sendiri sih ya, mungkin karena udah nggak punya rasa sayang lagi. Pernah menyayangi banyak orang, tetapi sayang, orang-orang yang disayang justru tak henti-hentinya menghancurkan diri nya sendiri, terus menerus melangkah menuju kegelapan. Akhirnya lelah dan sekarang Puscha memilih untuk membiarkan saja mereka begitu, membiarkan mereka berjalan ke lembah gelap terdalam, jika mereka sadar pada waktu nya pasti mereka akan berusaha merangkak keluar. Puscha tak lagi mau membantu dengan cara apapun.
Puscha lebih memilih untuk menyayangi mereka yang setiap hari cuma bisa bikin capek karena harus ngepel berkali-kali setiap hari, karena bahkan mereka tau bahwa apa yang Puscha lakukan karena sayang. Yap, Puscha lebih memilih untuk menyayangi anak-anak kaki empatnya. xixixixi

Kepanjangan ah guys, tapi namanya juga curhatan ya, masak iya mau dipotong-potong curhat nya. 😅😅😅
Pesan Puscha buat kalian sih guys, lakukan apa hati kalian katakan guys.
😘😘😘

Thank you for reading this. Have a blessed day

Regard,
Puscha