"Jadi.... Putri telah...," Mbah Ngadi berhenti, menatap bergantian pada orang-orang yang berkumpul di ruangan itu.
"Putri kenapa Mbah? Anak saya kenapa?" Tanya Mutia tak sabaran.
"Ada beberapa orang yang ditakdirkan memiliki aura yang menarik untuk para makhluk yang tinggal di dunia lain. Sering kali aura mereka baru mulai terbuka ketika sudah menginjak usia diatas 15 tahun. Ketika masih bayi, aura ini nampak oleh mereka yang menekuni ilmu-ilmu kejawen, maka biasanya anak ini akan disiapkan bagaimana menghadapi hal-hal seperti ini. Namun, dalam kasus Putri, tidak ada yang mengarahkannya, dan aura itu terbuka tanpa sepengetahuan kita," Jelas Mbah Ngadi.
"Ma...maksudnya Mbah?" tanya Mutia.
"Putri punya aura yang disukai oleh mereka yang tinggal di dimensi sebelah, yang mana aura itu baru saja terbuka. Apakah Putri pernah sakit panas selama beberapa hari, hanya pada saat malam?" Tanya Mbah Ngadi.
"I...Iya mbah, sebulan yang lalu, Putri sakit panas selama 5 hari, hasil cek darahnya tidak ada masalah, dokter pun bingung soal sakitnya Putri. Itu apa artinya Mbah?" papar Mutia.
"Itu adalah tanda awal terbukanya aura Putri, Bu. Karena tidak ada yang mempersiapkan nya dari awal, maka hal-hal seperti ini terpaksa terjadi dan mau tidak mau kita harus menerimanya karena ini bukan salah Putri," Papar Mbah Ngadi lagi.
"Maksud Mbah ngomong kayak gitu apa sih, Mbah? sebenernya Putri kenapa?" cecar Mutia.
"Anak gadis ibu, sudah dipinang oleh makhluk yang tinggal di rumah belanda itu bu, ehm.. dan maaf, Putri sudah tidak lagi gadis,"
Semua orang di ruangan itu terkesiap, terlebih Mutia.
"Kita tetap harus menjaga Putri, dan menerima kondisi Putri bagaimanapun nanti keadaannya. Kita tidak mengetahui bagaimana kedepannya nanti, jika memang benih yang ditanam makhluk itu di dalam tubuh Putri tumbuh, maka untuk sementara Putri aman, tidak akan ada makhluk lain yang mengganggu. Tetapi jika tidak, maka kita harus mengadakan ruwatan untuk membersihkan aura Putri, supaya hal seperti ini tidak terjadi lagi," jelas Mbah Ngadi.
"Apa tidak bisa digugurkan saja jika memang janin itu tumbuh Mbah?" Kata salah seorang pria.
Mutia yang ada di dalam dekapan salah satu wanita yang ikut dalam perbincangan itu hanya bisa mengangguk tak bersuara, menyetujui ide untuk menggugurkan janin makhluk tak jelas itu.
"Tidak bisa, karena jika kita menggugurkan janin itu, maka Putri yang akan mati," tegas Mbah Ngadi.
"Tapi Mbah, bagaimana jika anak itu nanti membawa sial di kampung ini?" Tanya Pak RT, yang setelah menyadari pertanyaannya beliau kemudian melihat tak enak hati pada bu Mutia.
Mbah Ngadi menghela nafas berat, beliau sendiri sebenarnya juga belum bisa melihat apakah jika anak ini dipertahankan akan membawa kebaikan atau justru petaka.
"Kita tunggu dulu, sampai bisa dipastikan apakah Putri mengandung atau tidak. Sisanya kita pikirkan nanti," kata mbah Ngadi kemudian.
Beberapa waktu berlalu setelah kejadian yang menimpa Putri, selama waktu itu, Putri tidak diijinkan keluar dari rumah atau bertemu orang lain selain keluarganya dan mbah Ngadi yang melakukan ritual untuk menjaganya. Hingga akhirnya hari yang dinantikan datang juga, hari dimana seharusnya Putri mengalami haid setiap bulannya. Sayangnya, di tanggal tersebut, hal yang mereka nanti tak juga muncul bahkan setelah menunggu seminggu lamanya.
"Mbah, kita bawa ke puskesmas saja nggih? biar segera jelas," pinta Mutia, karena putri tak juga menunjukkan tanda-tanda baik itu kehamilan maupun tidak.
"Iya bu, saya setuju. Saya akan ikut mengawal putri, sekedar untuk jaga-jaga," jawab mbah Ngadi.
Mutia mempersiapkan dirinya dan juga Putri yang masih terbaring lemah di tempat tidur dengan wajah pucatnya itu untuk bergegas berangkat ke puskemas, ditemani mbah Ngadi dan diantar oleh tetangganya.
Sesampainya di puskemas, mereka diarahkan ke bagian ibu dan anak.
"Bapak, Ibu, adek Putri ini betul kondisi nya hamil. Hasil test kehamilan menunjukan 2 garis Pak, Bu," ujar seorang petugas yang sepertinya adalah seorang bidan.
Tanpa menjawab, Mbah Ngadi hanya menghela nafas berat, sedangkan Mutia sudah mulai menangis.
"Tolong diterima saja kondisinya ya Pak, Bu. Janin yang saat ini dikandung oleh Putri tidak tahu apa-apa, jadi tolong diterima dan dirawat. Adek Putri pun juga sebaiknya dirawat dan di dukung psikologisnya," kata bidan itu lembut.
"Terima kasih bu bidan. Ayo kita pulang Bu," ucap Mbah Ngadi, berterima kasih kepada sang bidan lalu mengajak Mutia untuk membawa Putri pulang. Mau membantah atau menjelaskan kepada bu Bidan pun terasa tak ada artinya.
"Pripun iki Mbah?" tanya Mutia sambil masih tersedu sesampainya di rumah.
"Wes-wes, nek Bu Mutia mengijinkan, Putri akan saya bawa ke Ibu kota, saya ada saudara di sana yang bisa menjaga putri dan memastikan kondisi nya ke depan akan baik-baik saja, sampai nanti anak ini lahir. Gimana bu?" ujar Mbah Ngadi.
"Ta...tapi Mbah, Putri belum pernah pergi jauh dari rumah, saya khawatir...."
"Wes to yu, ini cuma sementara dan untuk kebaikan Putri juga, kalau tetap disini kita nggak tahu apa yang akan terjadi ke depannya," bujuk seorang wanita yang merupakan salah satu tetangga Mutia.
"Betul bu, setidaknya sampai anak ini lahir, kalau dia lahir, kita akan bisa melihat imbas apa yang dibawa olehnya bagi kita," kata mbah Ngadi.
"Tapi Putri akan baik-baik saja kan Mbah?" tanya Mutia ragu-ragu.
"Hmm... karena sudah dipastikan Putri mengandung benih makhluk itu, maka selama janin itu ada di dalam perutnya, Putri akan selalu aman," jawab mbah Ngadi.
"Ba...baik Mbah, lakukan saja yang terbaik buat Putri, Mbah," pasrah Mutia.

